Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mendarat di ‘Israel’ pada Ahad (14/9/2025), memulai kunjungan yang dibayangi oleh dampak serangan udara ‘Israel’ yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap ibu kota Qatar beberapa hari sebelumnya.
Menurut laporan media AS, Rubio dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu di tengah meningkatnya ketegangan regional, sementara KTT Darurat Arab-Islam akan digelar Senin di Doha dan ‘Israel’ terus menggencarkan serangan di Gaza.
Kunjungan ini berlangsung setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengkritik serangan ‘Israel’ terhadap para pejabat Hamas yang sedang mengadakan pertemuan di Doha. Meski serangan itu gagal mengenai target utamanya, enam orang tewas, termasuk seorang anggota pasukan keamanan Qatar.
Sebelum berangkat dari Washington, Rubio mengatakan kepada wartawan bahwa meskipun Trump “tidak senang” dengan operasi tersebut, hal itu “tidak akan mengubah sifat hubungan kami dengan ‘Israel’.” Namun ia mengakui bahwa dampak dari insiden itu akan menjadi topik utama dalam pembicaraan terkait upaya mencapai gencatan senjata di Gaza.
“Presiden ingin ini segera berakhir. Dan yang dimaksud berakhir adalah 48 sandera dibebaskan sekaligus. Hamas tidak lagi menjadi ancaman sehingga kita bisa melangkah ke tahap berikutnya, yaitu bagaimana membangun kembali Gaza,” kata Rubio. “Bagaimana menjamin keamanan? Bagaimana memastikan Hamas tidak kembali lagi? Itu prioritas presiden … Dan bagian dari yang harus kita bahas dalam kunjungan ini adalah bagaimana peristiwa pekan lalu di Qatar memengaruhi semua itu.”
Rubio menambahkan masih ada pertanyaan besar soal siapa yang akan memimpin rekonstruksi, bagaimana pendanaannya, serta mekanisme apa yang bisa menjamin stabilitas di wilayah tersebut.
Di media sosial pada Sabtu (13/9), Rubio menulis bahwa fokusnya di ‘Israel’ adalah “mengamankan kembalinya para sandera, memastikan bantuan kemanusiaan sampai ke warga sipil, dan membahas ancaman yang ditimbulkan oleh Hamas.”
Serangan ‘Israel’ ke Qatar, yang dilakukan tanpa koordinasi dengan Washington, telah mengguncang upaya mediasi.
Hamas sendiri menyatakan siap membebaskan semua tawanan ‘Israel’ dan menyerahkan otoritas di Gaza kepada badan Palestina sementara, dengan syarat gencatan senjata diberlakukan dan ‘Israel’ menarik pasukan sepenuhnya. Namun, Netanyahu kembali menegaskan rencana perluasan permukiman di Tepi Barat yang diduduki serta memberi sinyal dukungan terhadap pengusiran massal warga Palestina dari Gaza.













